Puluhan Genting dan Seng Rusak Akibat Puting Beliung di Dua Desa Probolinggo
- Faradila Setya Utami/ VIVA Banyuwangi
Probolinggo, VIVA Banyuwangi –Angin puting beliung menerjang dua wilayah di Kabupaten Probolinggo pada hari Minggu, 8 Maret 2026 sore. Peristiwa tersebut terjadi di Desa Pohsangit Leres dan Dusun Ngepung, Kecamatan Sukapura. Akibatnya, puluhan genting dan beberapa lembar seng atap rumah warga rusak.
Berdasarkan pantuan lokasi keesokan harinya, sebagian besar rumah yang terdampak sudah mulai diperbaiki oleh warga. Mereka bergotong royong agar rumah tidak kembali kemasukan air jika hujan turun.
Di Desa Pohsangit Leres, angin puting beliung merusak rumah milik Hamidah serta satu bangunan kosong di depan rumahnya yang sudah tidak berpenghuni. Bagian rumah Hamidah yang terdampak adalah dapur yang memiliki dua ruangan.
“Saya lagi duduk-duduk santai, tiba-tiba lihat angin muter. Saya langsung teriak-teriak. Suami saya sampai adzan di depan rumah,” ujar warga terdampak, Hamidah.
Saat kejadian, rumah tersebut sebenarnya dihuni oleh 11 orang. Namun kebetulan seluruh penghuni sedang tidak berada di rumah sehingga tidak ada korban.
Kerusakan terjadi pada bagian atap dapur yang menyebabkan banyak genting berjatuhan. Untuk memperbaikinya, Hamidah memperkirakan membutuhkan sekitar 300 genting dengan biaya sekitar Rp1 juta termasuk ongkos tukang.
“Perbaikannya kemarin sampai sekitar jam delapan malam, tapi belum selesai. Sisanya baru dilanjutkan hari ini,” lanjutnya.
Sementara itu di Dusun Ngepung, Kecamatan Sukapura, angin puting beliung terjadi setelah hujan turun sekira pukul 15.00 WIB. Satu jam kemudian, angin kencang datang secara tiba-tiba.
Juariah, warga setempat yang rumahnya juga terdampak, mengatakan saat kejadian kondisi tidak gelap dan listrik masih menyala.
“Jam tiga hujan, terus sekitar jam empat tiba-tiba angin datang. Saya lagi istirahat di dalam rumah, mau masak, langsung keluar,” ujar Juariah.
Atap rumah Juariah mengalami kerusakan pada enam lembar seng. Seng yang rusak langsung diganti bersama warga sekitar secara gotong royong tanpa menggunakan tukang.
“Yang penting cepat dibenahi supaya kalau hujan tidak masuk air. Tadi warga bantu-bantu, selesai sekitar jam delapan malam,” katanya.
Harga seng yang digunakan sekitar Rp38 ribu per lembar. Selain rumah Juariah, beberapa rumah warga lain juga terdampak, di antaranya milik Harmoko di bagian ruang makan, Warto di bagian dapur, serta rumah Asir dan Bambang yang berada dalam satu rumah dengan Juariah.