Bukan Sekadar Pecah Piring! Serunya Polterabend, Tradisi Unik Penolak Bala di Jerman
- instagram.com/p/CfO0sTbrD9l/?img_index=1
Budaya, VIVA Banyuwangi – Mendengar kata “pesta pernikahan ala Eropa”, yang terbayang mungkin adalah suasana khidmat di gereja tua atau dansa elegan di sebuah ballroom. Tapi, bagaimana jika sebuah perayaan jelang nikah justru diwarnai suara piring pecah berdentuman yang memekakkan telinga? Aneh? Justru di situlah serunya!
Selamat datang di Polterabend, tradisi unik di Jerman di mana para tamu sengaja datang untuk memecahkan piring dan barang pecah belah lainnya. Tujuannya? Ternyata sangat akrab di telinga kita, yaitu untuk menolak bala dan mengusir roh jahat! Yuk, kita kenali lebih dekat tradisi 'berisik' yang ternyata punya makna mendalam dan kesamaan tak terduga dengan budaya kita ini!
Apa Itu Polterabend?
Secara harfiah, Polterabend berasal dari dua kata dalam bahasa Jerman, yaitu “poltern” yang berarti 'membuat gaduh' atau 'membuat keributan', dan “Abend” yang berarti 'malam'. Jadi, ini adalah "malam membuat kegaduhan".
Tradisi ini biasanya diadakan beberapa hari atau malam sebelum hari H pernikahan, seringkali di depan rumah calon pengantin wanita. Para tamu, mulai dari keluarga, teman, hingga tetangga, akan datang membawa barang pecah belah porselen tua. Jadi yang dibawa bukan yang baru, seperti piring, cangkir, ubin, pot bunga, bahkan wastafel atau kloset bekas, lalu bersama-sama menghancurkannya hingga menjadi serpihan kecil.
Filosofi di Balik Suara Bising Pecahan
Di sinilah letak jantung dari tradisi Polterabend. Ada sebuah pepatah Jerman kuno yang berbunyi, "Scherben bringen Glück", yang artinya "Pecahan membawa keberuntungan". Masyarakat Jerman percaya bahwa suara bising dan gaduh dari piring yang pecah akan menakut-nakuti dan mengusir roh-roh jahat yang mungkin ingin mengganggu kebahagiaan calon pengantin.