Blangkon dalam Upacara Adat Jawa, Makna dan Perannya di Pernikahan
- https://pixabay.com/photos/juru-kunci-old-man-indonesian-6399189/
Budaya, VIVA Banyuwangi – Blangkon bukan sekadar penutup kepala biasa, tetapi adalah simbol kebanggaan, status sosial, dan nilai-nilai luhur masyarakat Jawa. Dalam berbagai upacara adat terutama pernikahan, Blangkon memainkan peran penting sebagai bagian dari busana yang penuh makna.
Artikel ini akan mengupas fungsi Blangkon dalam tradisi Jawa, khususnya dalam pernikahan, serta jenis-jenis Blangkon yang umum digunakan.
Fungsi Blangkon dalam Upacara Adat Jawa, Termasuk Pernikahan
1. Blangkon sebagai Simbol Ketekunan dan Kesabaran
Dalam budaya Jawa, Blangkon melambangkan ketekunan dan kesabaran. Pria Jawa yang mengenakan Blangkon di upacara adat dianggap telah memahami tata krama, dan siap menjalankan peran sosialnya. Contohnya seperti berikut.
- Siraman, yaitu calon pengantin pria memakai Blangkon saat prosesi mandi adat sebagai tanda kesiapan menikah.
- Akad nikah, yaitu Blangkon menjadi bagian wajib dari busana Jawi Jangkep atau pakaian adat Jawa lengkap yang dikenakan oleh mempelai pria.
2. Jenis Blangkon yang Digunakan dalam Pernikahan
Tidak semua Blangkon cocok untuk upacara pernikahan. Berikut dua jenis utama yang kerap dipakai.
- Blangkon Yogyakarta, memiliki mondolan di belakang dan bermotif truntum atau kumitir yang melambangkan keteguhan.
- Blangkon Surakarta, tidak memiliki mondolan dan bermotif kesatrian atau tempen, dengan simbol kebijaksanaan.
Warna Blangkon biasanya disesuaikan dengan warna kain dodot yang dikenakan oleh mempelai.
3. Makna Filosofis di Balik Pemakaian Blangkon
- Ikatan yang kuat, cara mengikat Blangkon melambangkan ikatan kuat antara manusia dan Tuhan, juga antara mempelai pria dan mempelai wanita.
- Pelindung diri, secara spiritual Blangkon dianggap sebagai pelindung diri dari energi negatif saat prosesi sakral.
4. Aturan Adat untuk Pemakaian Blangkon
Agar tidak salah langkah, perhatikan aturan ini.
- Jangan sembarang pilih warna, hitam atau coklat tua untuk acara resmi dan warna putih untuk ritual tertentu.
- Posisi mondolan, mondolan untuk Blangkon Yogyakarta harus menghadap ke belakang sebagai simbol kerendahan hati.