Mengenal Budaya Suroan di Banyuwangi
- https://trimulyo.bantulkab.go.id/first/artikel/1258-Tradisi-Kenduri-Ketupat-Jelang-Hari-Raya-Idul-Fitri-
Budaya, VIVA Banyuwangi – Banyuwangi sebagai daerah paling timur Pulau Jawa menyimpan kekayaan budaya yang khas. Salah satu budaya yang masih dijaga hingga kini adalah tradisi Suroan, yaitu peringatan menyambut Tahun Baru Islam, 1 Muharram atau 1 Suro dalam penanggalan Jawa.
Tradisi ini tidak hanya menjadi kegiatan religius, tetapi juga budaya lokal yang mengandung nilai spiritual, sosial, dan historis.
Ruwatan dan Tumpeng Sewu
Salah satu ciri khas perayaan Suroan di Banyuwangi adalah Tumpeng Sewu, yaitu menyajikan ribuan tumpeng kecil yang dibawa oleh warga ke lapangan terbuka. Acara ini digelar sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan perlindungan kepada Tuhan.
Ritual ini biasanya diawali dengan ruwatan massal, doa bersama, dan dilanjutkan dengan pembagian tumpeng kepada warga yang hadir.
Ritual Tolak Bala dan Doa Bersama
Suroan juga menjadi momentum pelaksanaan tolak bala, yaitu ritual membersihkan diri dari hal-hal negatif yang mungkin terjadi di tahun baru. Tokoh masyarakat, sesepuh desa, dan tokoh agama biasanya memimpin prosesi doa dan pembacaan tahlil.
Warga percaya bahwa ritual ini akan membawa keselamatan dan keberkahan untuk desa selama satu tahun ke depan.
Seni dan Kesenian Tradisional
Selain ritual spiritual, Suroan juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni tradisional seperti jaranan, gandrung, dan pencak silat. Kegiatan ini memperkuat identitas budaya lokal Banyuwangi serta menghibur masyarakat dalam nuansa sakral dan meriah.
Beberapa desa bahkan mengadakan kirab budaya dengan membawa gunungan hasil bumi sebagai simbol kemakmuran.
Tradisi Suroan di Banyuwangi merupakan percampuran antara nilai keagamaan dan budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Keberlangsungannya hingga kini menunjukkan kuatnya identitas masyarakat Banyuwangi dalam menjaga kearifan lokal.