Bendera Merah Putih Sepi Peminat, Bendera One Piece Malah Diburu!
- https://www.tvonenews.com
Kotamobagu, VIVA Banyuwangi – Menjelang perayaan kemerdekaan, suasana pasar biasanya dipenuhi semangat nasionalisme. Namun tahun ini, pemandangan berbeda terjadi di beberapa sudut daerah. Para pedagang yang biasa menjajakan bendera merah putih mengaku sepi pembeli, justru bendera tokoh anime ramai dicari.
Fenomena unik ini tampak di Kotamobagu, Sulawesi Utara. Dikutip dari laman tvOnenews pada Rabu, 6 Agustus 2025, para pedagang bendera tradisional mulai mengeluh karena dagangan khas bulan Agustus tak seramai dulu. “Dari pagi sampai siang belum ada yang beli,” ujar Iwan, salah satu pedagang musiman.
Sebaliknya, bendera bertema anime seperti One Piece justru habis terjual dalam waktu singkat. Bahkan, sebagian pedagang mengaku harus memesan ulang stok karena permintaan terus berdatangan. Situasi ini membuat banyak orang bertanya-tanya, semangat nasionalisme sudah bergeser, atau tren budaya pop sedang mengambil alih?
Pedagang lain menyebut bahwa anak-anak muda kini lebih tertarik dengan karakter fiksi daripada simbol negara. Hal ini juga dipengaruhi oleh media sosial yang ramai mempopulerkan budaya Jepang. “Anak-anak sekarang lebih suka yang viral,” ujar Sari, pedagang lainnya, seperti dilansir dari laman tvonenews.
Tak sedikit yang menyayangkan fenomena ini, apalagi menjelang Hari Kemerdekaan. Penurunan minat terhadap bendera merah putih dianggap mencerminkan perubahan dalam cara masyarakat merayakan momen penting. Sementara itu, para pedagang tetap berusaha bertahan, meski omzet terus menurun.
Beberapa pihak berharap perayaan 17 Agustus tahun ini bisa tetap diwarnai dengan semangat kebangsaan. Namun di lapangan, realitasnya semakin jelas: bendera karakter anime lebih diminati dibanding simbol negara sendiri.
Jika tren ini terus berlangsung, bukan tak mungkin momen kemerdekaan ke depan akan terlihat sangat berbeda. Bukan lagi merah putih yang mendominasi jalanan, tapi justru warna-warni dari dunia fiksi yang membanjiri kota.
Dalam kondisi ini, para pedagang kecil hanya bisa berharap semangat nasionalisme kembali menyala. Setidaknya sekali dalam setahun, agar dagangan mereka tetap punya tempat di hati rakyat.