Dana Tambahan Rp 20 T Bikin Program Andalan Prabowo Mangkrak?
- youtube.com
Jakarta, VIVA Banyuwangi – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah genap berusia 10 bulan, namun banyak program prioritasnya yang dikritik masih jalan di tempat. Di tengah janji manis program makan bergizi gratis dan Koperasi Merah Putih, ternyata ada masalah besar yang membayangi. Dana tambahan yang dijanjikan pemerintah ternyata belum juga turun.
Seperti dikutip dari video yang dilansir kanal YouTube @tvOneNews pada Jumat, 15 Agustus 2025, Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan, Dede Prayudi, mencoba memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa target besar pemerintah untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak bisa terealisasi dalam waktu singkat. Butuh waktu panjang.
"Target 82.9 juta orang adalah target untuk 5 tahun, dan gelontoran dana tambahan untuk mencapai target tersebut belum turun," ujar Dede Prayudi. Seperti dilansir dari video yang dikutip kanal YouTube @tvOneNews.
Ia menambahkan, pemerintah memang berencana menambah dana, namun alokasi anggaran belum diformalkan.
Hal ini memicu kekhawatiran dari pengamat. Arya Fernandez, seorang pengamat politik dari CSIS, menyoroti target yang tidak realistis.
"Meskipun target MBG adalah 82 juta orang, penyerapan manfaatnya baru mencapai 15 juta orang," kata Arya Fernandez. Jumat, 15 Agustus 2025.
Jarak yang sangat jauh ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara target dan realisasi.
Program unggulan lain, yaitu Koperasi Merah Putih, juga tidak luput dari kritik. Pemerintah mengklaim telah membentuk 80.000 koperasi, tetapi Arya Fernandez menyebut ini baru sebatas di atas kertas. Realitas di lapangan jauh berbeda dari yang diumumkan.
"Pembentukan 80.000 koperasi itu baru di atas kertas," tutur Arya Fernandez.
Ia menyoroti adanya masalah dalam implementasi. Ada kekhawatiran mengenai pembiayaan dan potensi kredit macet. Jika terjadi, dana desa akan digunakan sebagai penjamin.
Dede Prayudi pun mengakui adanya masalah ini.
"80.000 koperasi yang di-launching adalah kelembagaannya yang sudah siap, tetapi masih ada beberapa yang belum beres, termasuk pembiayaan dan model bisnisnya," tutur Dede Prayudi.
Pengakuan ini semakin menguatkan kritik bahwa program tersebut belum matang.
Meskipun demikian, ada beberapa program yang menunjukkan progres positif. Peningkatan subsidi pupuk sebesar Rp 20 triliun menjadi kabar gembira bagi para petani. Subsidi ini akan membantu para petani untuk meningkatkan produksi.