Buyut Saridin dan Strategi Perlawanan Lewat Budaya

Sanusi Marhaedi sedang berkirim do'a di makam Buyut Saridin
Sumber :
  • Hari Purnomo / VIVA Banyuwangi

Budaya, VIVA BanyuwangiDi Banyuwangi, khususnya di Desa Olehsari, perlawanan tidak ditulis dalam berlembar-lembar narasi tentang tragedi perang, tetapi diwujudkan dalam gemulai gerak, dinyanyikan dalam gendhing-gendhing, dan dilantunkan dalam rapal mantra.

img_title Soto Kudus, Rasa yang Menyapa dari Masa ke Masa

Di sanalah sosok Buyut Saridin menjelma bukan hanya sebagai tokoh spiritual, tetapi juga sebagai arsitek strategi kebudayaan yang menanamkan perlawanan melalui nilai, etika, dan kesenian seperti yang dikutip dari laman balaibahasajatim.kemdikbud.go.id

Ia berjuang melawan kolonialisme bukan dengan mengangkat senjata, suaranya menggema dari dalam tanah dan menciptakan sebuah ritual yang kemudian menjadi jalan olah spiritual yang kemudian dilakoni oleh masyarakat Using yang hidup dalam budaya agraris.

img_title Onde-Onde, Manisnya Kebersamaan di Sore Hari

Sanusi Marhaedi yang merupakan Tokoh Adat Using menyampaikan bahwa Buyut Saridin adalah cerminan nilai Ndugal Kewarisan yang merupakan perpaduan antara sifat aclak (berani), ladak (blak-blakan), dan bingkak (suka berbicara terus terang).

Buyut Saridin bukan pemimpin dalam struktur formal kekuasaan, melainkan pemimpin yang berakar dalam kesadaran kolektif rakyat.

img_title Ketua IKA Untag Banyuwangi Dinobatkan Sebagai Keluarga Kehormatan Masyarakat Adat Mandar

Dalam pasemon berbahasa Using, ia digambarkan sebagai Semur Wader Pindang Koyong yang berarti Sak Umur-umur Saridin Uripe Ider-ider Keloyongan ialah orang yang hidup berkelana, menyebar pengetahuan dan petuah, hingga akhirnya menetap dan menjadi leluhur spiritual di Dukuh Talunjeruk Banyuwangi.

Salah satu warisan Buyut Saridin yang paling kuat terasa hingga kini adalah ritual adat Seblang Olehsari. Ia sebagai salah satu pengagas tradisi ritual adat Seblang.

Warga Olehsari, percaya bahwa cikal bakal yang ngawiti ritual adat Seblang adalah Aji Anggring, Buyut Cili, Mbah Saridin, Mbah Jalil, dan Buyut Ketut. Seblang merupakan manifestasi kolektif masyarakat dalam menjaga keseimbangan antara dunia fisik dan spiritual.

Ritual ini muncul secara besar-besaran pada masa pagebluk 1930 yang membuat masyarakat memohon kepada Tuhan dan leluhurnya jalan pertolongan. Buyut Saridin ditunjuk sebagai pawang, dan ia memilih Jamilah (atau Milah) sebagai Penari Seblang.

Penunjukan merupakan keputusan spiritual yang dilakukan setelah mendapat petunjuk dari leluhur. Penari dipilih bukan karena cantik atau muda, tetapi karena suci dan bersih hatinya.

Halaman Selanjutnya
img_title