Mengenal Sejarah Candi Ratu Boko di Yogyakarta

Candi Ratu Boko
Sumber :
  • https://borobudurpark.com/temple/ratu-boko/

Budaya, VIVA Banyuwangi – Candi Ratu Boko merupakan salah satu situs peninggalan sejarah dari Kerajaan Mataram Kuno atau Medang. Lokasi pemerintahan ini berada di Yogyakarta dan eksis pada abad ke-8 Masehi.

img_title Ketua IKA Untag Banyuwangi Dinobatkan Sebagai Keluarga Kehormatan Masyarakat Adat Mandar

Selain Candi Ratu Boko, ada beberapa bangunan yang juga jadi peninggalan Mataram Kuno, seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur, Candi Kalasan, hingga Candi Sewu.

Secara administratif, lokasi Candi Ratu Boko berada di Dusun Dawung, Desa Bokoharjo dan Dusun Sumberwatu di Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten, Sleman, Yogyakarta.

img_title Entas-Entas Upacara Kematian Suku Tengger, Ritual Sakral Untuk Jiwa Yang Telah Pergi

Perlu diketahui jika nama Ratu Boko diduga berasal dari legenda dari masyarakat setempat. Istilah ratu sendiri diartikan bukan hanya pada sosok pemimpin perempuan, melainkan juga pada raja.

Berdasarkan cerita rakyat setempat, Ratu Boko merupakan ayah dari Roro Jonggrang yang jadi sosok utama legenda Candi Prambanan atau Candi Sewu.

img_title Grebeg Suran Baturraden Tradisi Banyumas yang Sarat Makna dan Warisan Leluhur

 

Akan tetapi, berdasarkan catatan sejarah dari para ahli, Candi Ratu Boko dibangun oleh Rakai Panangkaran pada 792 Masehi. Bangunan ini bisa dikategorikan bukan sebuah candi, melainkan sebuah vihara bagi penganut buddha yang dinamakan Abhayagiri.

 

Dijelaskan pada saat itu, Rakai Panangkaran memutuskan turun dari tahta karena ingin menjalani kehidupan tenang dan fokus pada sisi keagamaan.

 

Dengan itu, dibangunlah Abhayagiri di sebuah perbukitan yang lahannya seluas 25 hektar. Pembangunan ini dibutuhkan karena biksu memerlukan tempat tenang dalam menjalani kehidupan beragama.

Kemudian di abad ke-9 Masehi, Abhayagiri ini fungsinya berganti menjadi istana oleh Rakai Walaing Pu Kumbhayoni yang beragama Hindu. Alasan ini yang kemudian membuat Candi Rakai Boko nampak adanya perpaduan budaya Buddha dan Hindu.

 Situs Candi Ratu Boko ini pertama kali ditemukan pada tahun 1790 oleh arkeolog asal Belanda, yakni van Boeckholtz. Penelitian kemudian diteruskan pada tahun 1814, 1884, 1854, hingga 1915.

 Penemuan ini kemudian menarik perhatian para ahli, terutama yang berasal dari Eropa. Mayoritas menyimpulkan jika Candi Ratu Boko terakhir kali digunakan sebagai istana hingga benteng pertahanan, meski awal sebagai kompleks keagamaan.