Perjalanan Hidup Gadis Difabel yang Tewas Terbakar di Kamarnya

Ilustrasi gadis difabel
Sumber :
  • Istimewa/ VIVA Banyuwangi

Jember, VIVA Banyuwangi –Kutipan kalimat seseorang akan terasa berharga saat telah pergi meninggalkan kita seolah pas disematkan pada kisah kematian seorang gadis difabel akibat terbakar.

img_title World Kids x Pets Carnival JFC di Jember, Tumbuhkan Kreativitas Anak dan Cinta Hewan

Banyak kisah yang selama ini mungkin diabaikan oleh orang sekitar.

Kisah ini mulai pada 19 tahun lalu saat ketegangan keluarga Siti Fatimah yang pecah oleh suara tangisan seorang gadis mungil.

img_title Hilirisasi Jagung Diperkuat, Pemkab Jember Gandeng UKRI dan Kementerian

Namun kebahagian tidak berlangsung lama karena gadis cantik tersebut tidak terlahir secara sempura.

Beberapa bagian tubuhnya tidak dalam kondisi seperti layaknya bayi yang terlahir dalam kondisi normal.

img_title KASAU Hadiri Panen Raya Tebu di Jember, Tegaskan Dukungan Target Swasembada Gula Nasional

Tapi kondisi gadis kecil yang selanjutnya diberi nama Adindasari tidak mengurangi kasih sayang kedua orang tuanya.

"Tangan dan kaki kanan sudah kaku sejak kecil. Saya tidak tahu kenapa penyebabnya," ujar Ibu Kandung Adindasari, Siti Fatimah.

Kendati dalam kondisi berbeda, Adindasari tetap beraktifitas seperti biasa kendati dalam keterbatasan.

"Kalau berjalan tertatih-tatih meski hanya menggetakkan satu kaki dan tangan kirinya," tutur Siti Fatimah.

Sejak kecil, Adindasari tinggal bersama kakek dan neneknya yang merawat hingga dewasa.

Mereka tinggal di Dusun Gumuklimo, Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

"Tapi kakeknya meninggal sejak tahun 2020 dan neneknya juga meninggal sejak tahun lalu," kata Ibu Kandung Adindasari.

Sejak saat itu, gadis 19 tahun tersebut dirawat oleh bibinya Siti Qomariyah yang tinggal 300 meter dari rumah yang ditempati gadis difabel itu.

"Saya harus merantau ke Jakarta untuk mencari rejeki," ungkap Siti Fatimah.

Semua kebutuhan Adindasari kendati terbatas, tetap dipenuhi oleh bibinya karena keponakannya tersebut mengalami difabel.

"Sejak kakek dan neneknya meninggal, tinggal sendirian di rumah tersebut," cerita Siti Fatimah.

Saat menjelang malam, Siti Qomariyah menyempatkan untuk menyiapkan semua kebutuhan Adindasari agar bisa terlelap saat malam hari.

"Bibinya menyiapkan semua termasuk menyalakan obat nyamuk agar bisa tidur saat malam," kenang Siti Fatimah pada putri bungsunya itu.

Kini Adindasari telah tiada akibat musibah kebakaran yang terjadi dikamarnya saat menjelang dini hari. Kamis 18 Juli 2024.

Selamat jalan Adindasari dan semoga perjalananmu berikutnya lebih indah, aamiin