Keutamaan Memaafkan dan Berlapang Dada, ini Keistimewaannya
- Istimewa / VIVA Banyuwangi
Banyuwangi, VIVA Banyuwangi –Penulis: Ustad Faisol Aziz. Ketua DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Banyuwangi.
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.
Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?
Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (QS An-Nuur: 22).
Ayat di atas turun berkenaan dengan sahabat yang mulia Abu Bakar ra.
Allah menegur Abu Bakar ra karena telah bersumpah untuk menghentikan bantuan kepada kerabatnya yang miskin Bernama Misthah.
Misthah ini sebenarnya kerabat Abu Bakar ra sendiri (putra dari Bibi). Misthah adalah seorang yang miskin dan anaknya banyak.
Selama ini Abu Bakar ra selalu membantu keluarga Misthah dengan sedekahnya yang banyak.
Mengapa Abu Bakar kecewa kepada Misthah, sampai bersumpah untuk menghentikan bantuan kepadanya?
Karena Misthah ikut ambil bagian dalam menyambung cerita dari mulut ke mulut tentang fitnah kepada putrinya Aisyah ra, yang juga Istri Rasulullah SAW dalam peristiwa yang disebut haditsul ifki (berita bohong).
Kekecewaan Abu Bakar tentu sangat beralasan, bahkan sangat wajar. Bagaimana tidak?
Orang yang selama ini telah Beliau bantu terus menerus, teganya ikut ambil bagian dalam menyebarkan fitnah putri kesayangannya?
Akan tetapi Allah hendak meninggikan derajat Abu Bakar ra dan orang-orang beriman.
Bahwa memaafkan kesalahan saudaranya itu jauh lebih baik dan menentramkan.
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada...”
Bukan hanya memaafkan, tapi juga berlapang dada. Maknanya adalah melupakan kesalahan itu seolah tidak pernah terjadi.
Tentu ini sangat berat. Bagaimana mungkin, melupakan kesalahan orang yang ikut ambil bagian dari peristiwa fitnah terhadap putri tercintanya.
Tapi Allah berfirman :” Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?”
Bahwa memaafkan itu akan mengundang pemaafan Allah. Dan tentu saja pemaafan Allah jauh lebih penting dari apa pun di dunia ini.
“Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”