Setelah 32 Titik Padam, BNPB Targetkan 2 Api Bromo Tuntas Jumat

Menteri PMK dan Kepala BNPB meninjau lokasi kebakaran di sekitar P-30
Sumber :
  • Faradila Setya Utami

Probolinggo, VIVA Banyuwangi –Karhutla di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mulai menunjukkan perkembangan.

img_title Sebelum Api Meluas, Personel BKO Polda Jatim Tangani Titik Api di Bromo

Dari 34 titik api yang sebelumnya terpantau, kini tinggal dua titik yang masih harus ditangani. Pemerintah menargetkan kedua titik tersebut bisa dipadamkan pada Jumat, 14 Agustus 2026.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan target itu sudah disampaikan kepada jajaran yang terlibat dalam penanganan karhutla Bromo.

img_title Luka Bakar Tak Teratasi, Munawi Menjadi Korban Jiwa Kelima Karhutla Bromo

“Target kami sudah sampaikan kepada Danrem, Sekda, kemudian Kalaksa BPBD baik provinsi maupun kabupaten/kota, kita upayakan dua titik ini Jumat sudah selesai,” kata Suharyanto saat meninjau penanganan karhutla Bromo, Selasa, 11 Agustus 2026.

Jika target tersebut tercapai, tiga helikopter yang saat ini digunakan untuk water bombing tidak lagi seluruhnya difokuskan di Bromo.

img_title Angin Berbalik di Lereng Bromo, 6 Relawan Terjebak Api, 4 Kehilangan Nyawa

Dua helikopter rencananya akan dialihkan ke daerah lain yang juga membutuhkan bantuan pemadaman.

“Artinya kita bisa geser bombing itu ya, kan ada tiga bombing. Dua bombing kita geser ke tempat lain karena tempat lain juga membutuhkan untuk pemadaman kebakaran,” ujarnya.

Meski tinggal dua titik, proses pemadaman masih menghadapi sejumlah kendala.

Salah satunya adalah kondisi medan. Titik api berada di kawasan dengan kemiringan sangat terjal sehingga sulit dijangkau pasukan dari darat.

“Yang pertama medan, jelas kan kalau kita lihat. Rekan-rekan media lihat itu apinya ada di ketinggian. Sudutnya sampai 80 derajat. Jadi pasukan darat kan tidak bisa naik sampai ke atas. Ini juga menyangkut keselamatan jiwa,” jelas Suharyanto.

Kondisi tersebut membuat operasi udara menjadi penting untuk menjangkau lokasi yang tidak aman didatangi personel.

Namun, pemadaman dari udara juga menghadapi persoalan lain, yakni keterbatasan sumber air. Saat ini air untuk water bombing diambil dari kawasan Ranu Regulo dan Ranu Pane.

Faktor cuaca juga menjadi perhatian. BNPB masih melihat peluang melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mendatangkan hujan.

Menurut Suharyanto, BMKG memperkirakan ada potensi awan hujan pada 14-16 Agustus atau sekitar 18 Agustus.

“Kalau memang betul-betul ada, nanti kita akan lakukan operasi modifikasi cuaca supaya datang hujan. Kalau hujan, tentu saja lebih efektif dan lebih efisien,” katanya.

Halaman Selanjutnya
img_title