Kabut Tebal Ganggu Water Bombing, Karhutla Bromo Capai 720 Hektare di Hari Kedelapan

Danrem dan Dir. FPKP BNPB saat pemaparan situasti karhutla Bromo
Sumber :
  • dok, Korem 083/Baladhika Jaya

Probolinggo, VIVA Banyuwangi –Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) memasuki hari kedelapan pada hari Senin, 10 Agustus 2026. Api pertama kali terlihat di wilayah Lumajang pada 3 Agustus 2026 sebelum masuk ke Kabupaten Probolinggo pada 4 Agustus 2026.

img_title Anggota Kodim Meninggal Kecelakaan di Jalan Raya Bromo, Baru Pulang Tugas Karhutla

Hingga hari kedelapan, luas kawasan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 720 hektare. Pemadaman masih berlangsung dengan fokus pada dua titik api yang masih aktif.

Komandan Korem (Danrem) 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan mengatakan dua titik tersebut berada di Puncak P-30, Kabupaten Probolinggo, dan Lembah Dingklik, Kabupaten Pasuruan.

img_title Posko Darurat Kebakaran Bromo Resmi Ditutup, Area Terdampak Capai 1.121,66 Hektare

Menurutnya, kedua titik itu sempat membesar pada malam sebelumnya. Api merembet ke vegetasi kering yang mudah terbakar, ditambah kondisi medan yang menyulitkan petugas menjangkau lokasi.

“Untuk operasi udara hari ini, kami mengerahkan dua unit helikopter untuk melaksanakan water bombing. Jumlah ini berkurang dari hari sebelumnya yang berjumlah tiga unit, dikarenakan faktor kabut tebal di lokasi yang membatasi jarak pandang aman (visibility) para pilot,” kata Danrem Wahyu dalam keterangan pers di Posko Karhutla TNBTS, Senin 10 Agustus 2026.

img_title 4.234 Pengunjung Terdampak Penutupan Bromo, TNBTS Masih Hitung Kerugian Karhutla

Danrem Wahyu saat memberikan keterangan kepada media

Photo :
  • Korem 083/Baladhika Jaya

Kabut tebal menjadi kendala baru dalam operasi pemadaman dari udara. Kondisi tersebut membuat jumlah helikopter yang dapat dioperasikan harus disesuaikan dengan tingkat keamanan penerbangan.

Sementara itu, pemadaman dari darat tetap dilakukan secara bersamaan. Personel gabungan dikerahkan untuk menangani titik api yang dapat dijangkau langsung, sekaligus melakukan patroli dan pemantauan di sekitar lokasi kebakaran.

Selain medan yang terjal, vegetasi kering juga menjadi tantangan. Kondisi tersebut membuat api berpotensi kembali menyala dan menjalar ketika mendapat pemicu.

Berdasarkan estimasi terbaru, luas kawasan yang terdampak kebakaran telah mencapai sekitar 720 hektare. Namun, angka tersebut tidak berarti seluruh kawasan seluas itu masih terbakar.

Pemadaman tetap diarahkan pada titik api aktif. Petugas juga menjaga lokasi yang telah dipadamkan untuk mengantisipasi munculnya kembali api dari titik panas yang masih tersisa.

Wahyu memastikan personel gabungan akan tetap berada di lapangan sampai seluruh titik api dinyatakan padam dan kondisi benar-benar aman.

Halaman Selanjutnya
img_title