Utang Rp3 Juta Berujung Pembacokan Perangkat Desa Jrebeng

Perangkat Desa Jrebeng terluka usai pembacokan
Sumber :
  • Dok. Warga

Probolinggo, VIVA Banyuwangi –Persoalan utang piutang berujung pembacokan seorang perangkat Desa Jrebeng, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo. Korban berinisial S mengalami luka parah dan harus mendapat perawatan di rumah sakit.

img_title Gagal Menyalip Yamaha Vega, Honda Grand Justri Picu Tabrakan 5 Motor di Kota Probolinggo

Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa, 11 Agustus 2026 siang di kawasan perempatan Pungging Cermin, Dusun Bindung, Desa Jrebeng. Dalam kejadian itu, S terlibat cekcok dengan K, yang merupakan anak dari orang yang sebelumnya ditagih utang oleh korban.

Kepala Desa Jrebeng, Ruslan, mengatakan persoalan tersebut bermula dari utang sekitar Rp3 juta yang telah berlangsung lebih dari satu tahun. Selain uang tersebut, masih terdapat cicilan telepon seluler yang belum diselesaikan.

img_title 13 Laka Sepekan Jelang HUT RI, Korban Luka di Kabupaten Probolinggo Bertambah

“Utangnya sekitar Rp3 juta, sudah lebih dari satu tahun. Selain itu masih ada kredit HP,” kata Ruslan.

Menurut Ruslan, persoalan utang tersebut kemudian berkembang menjadi pertengkaran hingga berujung pada pembacokan terhadap S. Korban mengalami luka cukup serius dan sempat tidak sadarkan diri setelah kejadian.

img_title Perangkat Desa Jrebeng Korban Pembacokan Meninggal, Polisi Dalami Dugaan Pelaku Kedua

S kemudian dibawa untuk mendapatkan pertolongan medis. Ruslan menyebut korban sempat mendapat penanganan di Puskesmas sebelum dibawa ke RS Ar-rozzy.

“Korban sempat pingsan. Setelah itu dibawa ke Puskesmas Wonotol, kemudian ke RS Ar-Rozzy. Kondisinya kritis dan rencananya dirujuk ke Jember,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolsek Wonomerto AKP Bagus Purnama membenarkan adanya peristiwa tersebut. Polisi mengamankan K setelah kejadian untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

“Untuk sementara motifnya karena utang piutang. Kalau jelasnya seperti apa, kita masih belum tahu karena masih pemeriksaan,” kata Bagus.

Bagus menjelaskan, sebelum pembacokan terjadi, S mendatangi pihak yang memiliki utang untuk menagih. Namun, persoalan tersebut berkembang menjadi cekcok karena utang belum dapat dilunasi.

“Si S ini nagih utang, terus karena si K ini tidak dapat memenuhi permintaan untuk melunasi utang, ada cekcok mulut,” ujarnya.

Menurut Bagus, setelah cekcok tersebut S sempat pulang mengambil celurit. S kemudian kembali ke wilayah tempat K berada dan keduanya terlibat perkelahian.

“S pulang membawa celurit, mengajak si K untuk carok. Habis itu datang ke daerahnya si K, akhirnya terjadilah kejadian seperti itu,” jelasnya.

Halaman Selanjutnya
img_title