Soeharto Rupanya Pernah Merencanakan Putrinya Untuk Menggantikan Dirinya Sebagai Presiden
- https://nationalgeographic.grid.id/read/132879853/soeharto-muda-dan-sekitarnya-yang-memengaruhi-masa-pemerintahannya?page=all
Sejarah, VIVA Banyuwangi –Soeharto merupakan orang terlama dalam sejarah Indonesia yang menjabat sebagai presiden.
Soeharto memerintah selama kurang lebih 32 tahun setelah menggantikan Soekarno yang lengser pasca tragedi G30S/PKI.
Namun, siapa sangka rupanya Soeharto pernah menyiapkan putri sulungnya untuk menggantikan dirinya sebagai presiden.
Dikutip dari buku 'Salim Said: Dari Gestapu ke Reformasi' karya Salim Said, nama putri sulung Soeharto tersebut adalah Siti Hardijanti Hastuti atau yang biasa dikenal masyarakat dengan julukan Tutut.
Siti Hardijanti Hastuti sendiri lahir di Yogyakarta pada tanggal 23 Januari 1949.
Tutut pernah menjabat sebagai Menteri Sosial dalam waktu singkat sebelum memasuki masa Reformasi.
Pengangkatan dirinya sebagai menteri tak lepas dari pergunjingan di masyarakat luas dikarenakan yang melantik Tutut sebagai menteri tak lain adalah ayahnya sendiri yakni Soeharto.
Dalam buku 'Salim Said: Dari Gestapu ke Reformasi' karya Salim Said, dijabarkan bahwa pada suatu sidang Badan Pekerja MPR 1997/1998, Salim Said pada masa itu sedang menjabat sebagai penasihat fraksi Golkar sedangkan Tutut sebagai ketua fraksi Golkar.
Hal tersebut membuat Salim Said menjadi lebih leluasa mengamati dengan lebih dekat langkah-langkah politik sang putri Presiden dan rencana sang Presiden itu sendiri terhadap putrinya tersebut.
Salim Said dalam buku itu dijelaskan berkesimpulan bahwa Soeharto sudah merencanakan akan menjadikan Tutut sebagai penggantinya di masa depan, namun dengan terlebih dahulu mengangkatnya sebagai menteri pada kabinet berikutnya.
"Anda lihat nanti dalam kabinet mendatang, Tutut akan jadi Menteri Sosial atau Menteri Urusan Wanita," ujar Salim Said kepada Ryaas Rasyid, dikutip dari buku 'Salim Said: Dari Gestapu ke Reformasi'.
'Ramalan' Salim Said menjadi kenyataan kala pada nama Tutut masuk dalam kabinet Pembangunan VII sebagai Menteri Sosial.
Namun, rencana Soeharto untuk menjadikan putrinya tersebut sebagai penggantinya akhirnya gagal karena demo berkepanjangan yang menuntut dilakukannya reformasi serta krisis finansial yang mendera di tahun 1998 yang pada akhirnya berujung runtuhnya Orde Baru pimpinan Soeharto.